Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Inilah
kalimat bijak yang sering kita dengar apabila membahas sejarah. Tak
hanya itu, Bung Karno juga punya slogan “Jas Merah”, jangan sekali
sekali melupakan sejarah. Apakah peringatan-peringatan ini tertanam pada
setiap anak bangsa di Indonesia? Apakah kita masih ingat bagaimana
perjuangan sejarah bangsa kita? Saya sebagai anak bangsa coba
me”refresh” ulang ingatan mengenai sejarah kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan Indonesia lahir atas nama penindasan yang dilakukan bangsa
asing terhadap Indonesia. Dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan
Jepang. Perjuangan telah dimulai ketika bangsa ini belum terbentuk.
Diantaranya perjuangan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia
dulunya. Salah satunya kerajaan Demak yang melawan Portugis, Fatahillah
sebagai salah satu tokohnya. Ketika kerajaan telah melemah, maka
muncullah perlawanan-perlawanan daerah.
Pahlawan-pahlawan daerah tersebar dari ujung barat sampai timur
Indonesia. Mulai dari aceh Cut Nyak Dien, Sisinga Maharaja, Tuanku Imam
Bonjol, Pangeran Diponogoro, Sultan Hasanuddin, sampai Pattimura.
Perjuangan ini mengorbankan jutaan nyawa dan harta untuk mengusir para
penjajah. Meskipun tak berhasil sepenuhnya, perjuangan ini telah membuat
Belanda kerepotan dalam segi militer dan pendanaan.
Setelah era perjuangan fisik, Indonesia memasuki era perjuangan
pergerakan atau perjuangan politik. Cara ini tak lagi mengandalkan
perang sebagai sarana tempur tapi lebih kepada pemikiran. Ini dimulai
dengan lahirnya organisasi “Boedi Oetomo” oleh para cendikiawan dari
“Stovia”, sekolah kedokteran di Batavia. Melalui organisasi inilah
dibuat semacam propaganda dan pengaruh untuk meruntuhkan Belanda.
Setelahnya lahir berbagai organisasi kemasyarakatan, diantaranya
Serikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Serikat Islam. Peran
organisasi ini sebenarnya sangat vital karena dalam waktu singkat telah
memiliki banyak cabang di berbagai daerah. Dengan basis pedagang yang
ada di seluruh Indonesia, organisasi ini cepat menjalar. Perdagangan
menjadi salah satu wadah bagi mereka untuk berkumpul dan menjaring ide
dalam pemerdekaan Indonesia. Para penjajahpun seperti keco;ongan oleh
para pedagang ini, dan dengan taktik keji Belanda terus mencoba memutus
mata rantai ini.
Organisasi yang sebenarnya juga mempunyai peran dalam kemerdekaan
adalah Komunis Indonesia sebelum menjadi partai. Meskipun sejarah formal
kita berusaha menghilangkan peran komunis ini. Organisasi Komunis
seperti “Murba” yang salah satu tokohnya adalah Tan Malaka berhasil
menjaring kekuatan para petani untuk membangkitkan semangat melawan
penjajah. Ideologi anti kemapanan ini dirasa cocok dan langsung tumbuh
subur di kalangan rakyat kelas bawah. Contoh perjuangan yang dilakukan
organisasi ini adalah ketika mereka melakukan perlawanan pada Belanda di
daerah Silungkang, Sumatera Barat pada sekitar 1920an.
Dengan semakin tumbuh suburnya Nasionalisme di kalangan rakyat
Indonesia, berbagai organisasi lahir. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober
1928, persatuan pemuda di seluruh nusantara menucapkan sumpah pemuda
yang isinya telah kita ketahui bersama dengan tokoh menonjol yakni
Muhammad Yamin. Setelah itu berbagai organisasi juga muncul, ada tiga
serangkai, Organisasi Bung Karno, PNI, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, M.
Natsir, dan beberapa lainnya.
Tokoh-tokoh yang tersebut di atas sangat intens sekali melakukan
perlawan terhadap Belanda. Melalui orasi-orasi, tulisan di surat kabar,
bahkan juga penyebaran Pamflet. Hal ini membuat geram Belanda sehingga
mereka-mereka itu sering kali ditangkap, dipenjaran, dan dibuang
Belanda. Soekarno, M. Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, M. Natsir
meskipun berbeda organisasi dan pandangan, namun semangatnya tetap satu
untuk mengusir penjajah. Contohnya Soekarno dan Muhammad Hatta, keduanya
ini pada masa pergerakan sering berpolemik. Hatta mengkritik dengan
tajam nasionalisme yang diusung Soekarno sebagai nasionalisme dangkal,
hal yang menelanjangi Soekarno di media massa waktu itu. Namun Soekarno
tetap menghargai kritik dan merasa perlu berdiskusi dengan Hatta.
Pada saat pergerakan sedang menggebu, tiba-tiba saja Jepang datang
dan melucuti Belanda. Jepang datang dengan semangat menuju Asia yang
jaya. Kedatangan Jepang ini dilihat pula sebagai angin segar, dan para
pejuang Indonesia menuntut kepada Jepang untuk memberikan kemerdekaan.
Tetapi Jepang menundanya karena masih terlibat perang dengan sekutu,
yakni perang dunia II. Jepang rupanya memanfaatkan Indonesia untuk
cadangan militernya. Dilatihnyalah para tentara Indonesia untuk
bergabung melawan sekutu, diantaranya adalah tentara PETA.
Keadaan Jepang rupanya terdesak, sekutu semakin kuat. Karena hal
inilah makanya Jepang melakukan praktek Romusha terhadap Indonesia.
Contohnya adalah pembangunan rel kereta api dari Muaro Sijunjung menuju
Pekanbaru. Inilah tragedi yang mengerikan dari Jepang, kerja paksa yang
membunuh jutaan jiwa. Hal ini dilakukan jepang agar bisa cepat
pengiriman tentara dari barat sumatra menuju timur sumatera tanpa harus
berputar dulu melalui Aceh. Namun hal ini tidak terlaksana karena Sekutu
telah cepat memantau mereka. Akhirnya pekerjaan yang mengorbankan
jutaan jiwa ini juga terbengkalai sampai sekarang.
Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada sekutu. Janji kemerdekaan
yang diberikan Jepang menjadi tanda tanya. Para pemuda Indonesia
menuntut supaya para petinggi untuk memprokalamirkan kemerdekaan. Tetapi
para petinggi seperti Soekarno dan Hatta ingin menunggu kejelasan dari
Jepang dahulu sebelum memproklamirkan kemerdekaan. Pemuda yang terdiri
dari Soekarni dan kawan-kawan bersikeras untuk memproklamirkan
kemerdekaan. Akhirnya pada saat tengah malam mereka menculik Soekarno
dan Hatta untuk pada pagi harinya Indonesia memproklamirkan kemerdekaan
pada 17 Agustus 1945.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar