Jumat, 13 Desember 2013

Sejarah Kemerdekaan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Inilah kalimat bijak yang sering kita dengar apabila membahas sejarah. Tak hanya itu, Bung Karno juga punya slogan “Jas Merah”, jangan sekali sekali melupakan sejarah. Apakah peringatan-peringatan ini tertanam pada setiap anak bangsa di Indonesia? Apakah kita masih ingat bagaimana perjuangan sejarah bangsa kita? Saya sebagai anak bangsa coba me”refresh” ulang ingatan mengenai sejarah kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan Indonesia lahir atas nama penindasan yang dilakukan bangsa asing terhadap Indonesia. Dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang. Perjuangan telah dimulai ketika bangsa ini belum terbentuk. Diantaranya perjuangan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia dulunya. Salah satunya kerajaan Demak yang melawan Portugis, Fatahillah sebagai salah satu tokohnya. Ketika kerajaan telah melemah, maka muncullah perlawanan-perlawanan daerah.
Pahlawan-pahlawan daerah tersebar dari ujung barat sampai timur Indonesia. Mulai dari aceh Cut Nyak Dien, Sisinga Maharaja, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponogoro, Sultan Hasanuddin, sampai Pattimura. Perjuangan ini mengorbankan jutaan nyawa dan harta untuk mengusir para penjajah. Meskipun tak berhasil sepenuhnya, perjuangan ini telah membuat Belanda kerepotan dalam segi militer dan pendanaan.
Setelah era perjuangan fisik, Indonesia memasuki era perjuangan pergerakan atau perjuangan politik. Cara ini tak lagi mengandalkan perang sebagai sarana tempur tapi lebih kepada pemikiran. Ini dimulai dengan lahirnya organisasi “Boedi Oetomo” oleh para cendikiawan dari “Stovia”, sekolah kedokteran di Batavia. Melalui organisasi inilah dibuat semacam propaganda dan pengaruh untuk meruntuhkan Belanda.
Setelahnya lahir berbagai organisasi kemasyarakatan, diantaranya Serikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Serikat Islam. Peran organisasi ini sebenarnya sangat vital karena dalam waktu singkat telah memiliki banyak cabang di berbagai daerah. Dengan basis pedagang yang ada di seluruh Indonesia, organisasi ini cepat menjalar. Perdagangan menjadi salah satu wadah bagi mereka untuk berkumpul dan menjaring ide dalam pemerdekaan Indonesia. Para penjajahpun seperti keco;ongan oleh para pedagang ini, dan dengan taktik keji Belanda terus mencoba memutus mata rantai ini.

Organisasi yang sebenarnya juga mempunyai peran dalam kemerdekaan adalah Komunis Indonesia sebelum menjadi partai. Meskipun sejarah formal kita berusaha menghilangkan peran komunis ini. Organisasi Komunis seperti “Murba” yang salah satu tokohnya adalah Tan Malaka berhasil menjaring kekuatan para petani untuk membangkitkan semangat melawan penjajah. Ideologi anti kemapanan ini dirasa cocok dan langsung tumbuh subur di kalangan rakyat kelas bawah. Contoh perjuangan yang dilakukan organisasi ini adalah ketika mereka melakukan perlawanan pada Belanda di daerah Silungkang, Sumatera Barat pada sekitar 1920an.
Dengan semakin tumbuh suburnya Nasionalisme di kalangan rakyat Indonesia, berbagai organisasi lahir. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober 1928, persatuan pemuda di seluruh nusantara menucapkan sumpah pemuda yang isinya telah kita ketahui bersama dengan tokoh menonjol yakni Muhammad Yamin. Setelah itu berbagai organisasi juga muncul, ada tiga serangkai, Organisasi Bung Karno, PNI, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, M. Natsir, dan beberapa lainnya.
Tokoh-tokoh yang tersebut di atas sangat intens sekali melakukan perlawan terhadap Belanda. Melalui orasi-orasi, tulisan di surat kabar, bahkan juga penyebaran Pamflet. Hal ini membuat geram Belanda sehingga mereka-mereka itu sering kali ditangkap, dipenjaran, dan dibuang Belanda. Soekarno, M. Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, M. Natsir meskipun berbeda organisasi dan pandangan, namun semangatnya tetap satu untuk mengusir penjajah. Contohnya Soekarno dan Muhammad Hatta, keduanya ini pada masa pergerakan sering berpolemik. Hatta mengkritik dengan tajam nasionalisme yang diusung Soekarno sebagai nasionalisme dangkal, hal yang menelanjangi Soekarno di media massa waktu itu. Namun Soekarno tetap menghargai kritik dan merasa perlu berdiskusi dengan Hatta.
Pada saat pergerakan sedang menggebu, tiba-tiba saja Jepang datang dan melucuti Belanda. Jepang datang dengan semangat menuju Asia yang jaya. Kedatangan Jepang ini dilihat pula sebagai angin segar, dan para pejuang Indonesia menuntut kepada Jepang untuk memberikan kemerdekaan. Tetapi Jepang menundanya karena masih terlibat perang dengan sekutu, yakni perang dunia II. Jepang rupanya memanfaatkan Indonesia untuk cadangan militernya. Dilatihnyalah para tentara Indonesia untuk bergabung melawan sekutu, diantaranya adalah tentara PETA.
Keadaan Jepang rupanya terdesak, sekutu semakin kuat. Karena hal inilah makanya Jepang melakukan praktek Romusha terhadap Indonesia. Contohnya adalah pembangunan rel kereta api dari Muaro Sijunjung menuju Pekanbaru. Inilah tragedi yang mengerikan dari Jepang, kerja paksa yang membunuh jutaan jiwa. Hal ini dilakukan jepang agar bisa cepat pengiriman tentara dari barat sumatra menuju timur sumatera tanpa harus berputar dulu melalui Aceh. Namun hal ini tidak terlaksana karena Sekutu telah cepat memantau mereka. Akhirnya pekerjaan yang mengorbankan jutaan jiwa ini juga terbengkalai sampai sekarang.
Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada sekutu. Janji kemerdekaan yang diberikan Jepang menjadi tanda tanya. Para pemuda Indonesia menuntut supaya para petinggi untuk memprokalamirkan kemerdekaan. Tetapi para petinggi seperti Soekarno dan Hatta ingin menunggu kejelasan dari Jepang dahulu sebelum memproklamirkan kemerdekaan. Pemuda yang terdiri dari Soekarni dan kawan-kawan bersikeras untuk memproklamirkan kemerdekaan. Akhirnya pada saat tengah malam mereka menculik Soekarno dan Hatta untuk pada pagi harinya Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar